Custom Layout oleh Abel Jinot, opang Content oleh Rewind Art Community. Diberdayakan oleh Blogger.

Rewind Art #16 performance art festival

10/03/2011

Performance Art Malang Festival #2




















Performance Art Malang Festival #2 (Pamafest) diadakan di Idea Sirkuit pada tanggal 24-25 September 2011, mengundang Rewind Art dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan Malang. Mengundang Pembicara Iwan Wijono dari Jogja.
Pada hari pertama diskusi "performance art as urban hacking" olehBonni Rambatan, "gerakan seni gerak" oleh Syarifudin dan "New Body Consciousness & Festival Seni Kontemporer" oleh Iwan Wijono, pemutaran video, praktek, perancangan eksekusi performance dan presentasi konsep.

Hari ke dua eksekusi performance, peserta Monyong (Surabaya), Mahasiswa UNM, Sunu, Elyda dan Julian (Malang), Soge (Malang), Bu Metta (Bandung), Siklum (Malang), Chirstian (Malang), Buntas (Malang), Vivi dari Meizhtruation Performance (Malang), Ferry (Malang), Mamet dan Ana (Jakarta), Rio (Jakarta), Gembo (Malang), Angga (Jakarta), Reza (Malang), Petot dan Obos dari Regu Kecoa (Bandung)

Rewind Art Jakarta menampilkan tiga pertunjukan dari empat Performer.
Mamet dan Ana menampilkan interaktif audience untuk meminum teh dengan satu gelas yang sama, sedangkan Ana menjadi objek visual orang yang tuna mempertanyakan perihal ilmu dan tubuh, lalu Mamet yang telah memberi teh kepada seluruh audience meminum kembali gelas tersebut dan mengtransferkan kepada Ana melalui mulut ke mulut.
Angga mengambil isu identitas suku dengan pola interaktif perkenalan "dari mana kota asal?", dan timbul jawaban Malang, Bandung, Jakarta, Singosari, Solo, perbedaan suku menjadi suatu pemicu konflik, pandangan seseorang seharusnya dapat dilihat secara Individu, ritual potong ayam dan penulisan bismillah dengan darah kemudian ayam dimasak menjadi makanan sebagai simbol sajian kebersamaan agar dapat dinikmati bersama-sama tanpa perbedaan.
Rio menampilkan pertunjukan untuk melawan kekangan dengan tampilan menari telanjang dengan musik disco volume kencang namun dengan gerakan selambat-lambatnya, lalu Rio melukiskan ditembok dengan cat kata "hantam".